My Articles‎ > ‎

Audio Mixer

diposting pada tanggal 27 Mei 2010 13.36 oleh tommykwitang   [ diperbarui10 Sep 2010 08.53 ]
 

Setelah kita membahas tentang microphone dengan berbagai tehnik dalam penggunaan-nya, maka selanjutnya kita juga perlu mengetahui tentang AUDIO MIXER YANG yang berguna untuk mengolah dan mencampur suara2 dari microphone dan instrumen musik electronic lainnya untuk menghasilkan sebuah konser atau band.

Audio mixer biasanya terdiri dari beberapa blok antara lain:

1. KANAL INPUT MONO ( MONO CHANNEL INPUT ) merupakan bagian penguat sinyal audio yang levelnya sangat rendah seperti microphone atau instrumen musik elekronik yang levelnya antara sekitar -60 to -20dBu ke level sekitar 0,775V (0 dBu) atau 1,585V rms (+4 dBV). Tidak hanya itu pada blok ini biasanya dilengkapi dengan perangkat tambahan yang nanti akan kita bahas lebih mendetail. 

0 dBu = 0.775 Volts rms                                                                                                                     0 dBV = 1 Volt rms

Klik gambar untuk memperbesar

2. KANAL INPUT STEREO ( STEREO CHANNEL INPUT ) fungsinya sama seperti KANAL INPUT mono, bedanya pada KANAL INPUT stereo terdapat 2 rangkaian yang identik sama dengan tombol-tombol pengatur yang digabungkan dalam 1 knob untuk kegunaan yang sama. Merupakan penguat 2 kanal seperti stereo HI-Fi yang biasa dipakai dirumah-rumah denga kepekaan input sekitar -30 to +10dBu

3. Keluaran Utama ( Master Output ) bagian keluaran utama (master) dengan 2 kanal output Kiri/Left dan Kanan/Right merupakan hasil pencampuran seluruh kanal input yang aktip, biasanya untuk dihubungkan ke bagian penguat Loudspeaker FOH (Front of House) yang diperuntukkan ke penonton ( audience ). 

Klik gambar untuk memperbesar


4. Mono Summary Output merupakan penggabungan dari Main Output Left & Right menjadi 1 kanal output mono. Biasanya Mono Summary Output untuk dihubungkan ke penguat Loudspeaker Sub Woofer FOH atau penguat Fill Side Monitor yang dipasang disisi kanan dan kiri panggung untuk monitor keseluruhan musisi dipanggung. Sehingga musisi bisa merasakan seperti apa suara yang didengar penonton dan dapat lebih menikmati permainan musik mereka secara utuh. 

5. Master Aux Output merupakan pengatur level utama hasil pencampuran Auxiliary output yang datang dari seluruh KANAL INPUT, outputnya untuk dihubungkan ke amplifier loudspeaker monitor untuk pemain musik dan penyanyi. Umumnya ada lebih dari 4 kanal master output auxiliary yang dibuat secara terpisah, sehingga penyanyi maupun musisi dapat memonitor suara sesuai kebutuhan masing2. Karena masing2 personil memiliki kebutuhan monitor suara yang berbeda-beda.

6. Group Output nyaris sama fungsinya dengan keluaran utama (master output), dengan total output minimal 4 kanal yang terbagi menjadi 2 kelompok. Group1 dengan 2 kanal output Left & Right, Group2 dengan 2 kanal output Left & Right. Untuk audio mixer yang memiliki Group Output, dalam aliran suara terpasang antara KANAL INPUT dengan Master Output, hasil campuran sinyal suara dari Group Output terhubung ke input Master Output. Penggunaan Group ini biasanya untuk membagi seluruh sinyal suara yang masuk menjadi beberapa group yang terpisah, misalnya Group1 untuk sinyal suara musik saja dan Group2 untuk Vocal penyanyi utama dan penyanyi suara latar. Bila penyanyi yang tampil memiliki power vocal yang lemah, sedangkan untuk menaikkan level suara penyanyi di audio mixer sudah tidak mungkin lagi, maka cara aman untuk menyeimbangkan keharmonisan level suara musik dengan level vocal adalah menurunkan level musik dari pengatur Group yang digunakan untuk musik. Cukup menurunkan 2 tombol Group saja.

7. PFL (Pre Fade Listen) untuk memonitor semua kanal secara sendiri-sendiri atau beberapa kanal sekaligus sesuai kebutuhan, dilengkapi dengan penguat suara untuk headphone atau untuk ke amplifier speaker monitor operator. Dengan menekan tombol PFL dikanal 1 saja, kita hanya akan memonitor suara yang datang dari kanal1. Sesuai namanya sinyal PFL diambil sebelum fader di masing2 kanal, dengan demikian naik turunnya fader dikanal yg bersangkutan tidak mempengaruhi level pada PFL. Dengan kondisi ini memungkinkan kita melakukan penyesuaian alat yang akan dihidupkan sementara acara tetap berjalan tanpa didengar penonton dengan cara menutup fader pada kanal yg bersangkutan saat melakukan setting, sehingga ketika saatnya alat dioperasikan sudah dalam setting yang baik. 

Selain PFL ada juga AFL (After Fade Listen) kegunaannya hampir sama seperti PFL tetapi koneksi diambil setelah Fader kanal atau pengatur level bagian yang akan dimonitor (AUX/Group/Master).



8. Effect Output fungsinya sama dengan Auxiliary Output, tetapi warna tombolnya dibedakan dengan Aux Output. Outputnya untuk dihubungkan kealat efek suara (Sound Effect) untuk menambahkan efek suara dari kanal2 yang diinginkan saja. Misalnya kanal yang digunakan untuk vocal para penyanyi ingin kita tambahkan dengan gema/reverb, delay, atau chorus.

9. Effect Return, keluaran suara dari alat efek suara dihubungkan kebagian ini dan akan terhubung ke input Group atau Main bercampur dengan seluruh suara yang masuk ke Group atau Main. Tetapi banyak sekali yang enggan mengunakan effect return, mereka lebih suka suara yang keluar dari efek suara dihubungkan ke salah satu KANAL INPUT yang belum digunakan. Tujuannya agar suara efek bisa diatur nadanya (tone) melalui tone control dibagian KANAL INPUT, sehingga terdengar lebih enak.

10. Record Output digunakan untuk merekam suara dari Main Output, dibagian ini biasanya dilengkapi pengatur level suara untuk penyesuaian terhadap alat perekam yang digunakan, sehingga diperoleh hasil rekaman yang optimal. Tetapi kadang merekam dari Rec Out kurang baik hasilnya, dikarenakan operator kadang harus mengubah Master output yang berpengaruh langsung terhadap output di Rec Out, bila Master Output dinaikkan kemungkinan hasil rekaman menjadi cacat karena overload. Suara cacat dalam rekaman tidak dapat diperbaiki, sedangkan level suara kurang tinggi bisa diedit untuk menaikannya.

11. Tape Input untuk mendengarkan hasil rekaman suara, output alat perekam dihubungkan kebagian ini. Disediakan bila input yang lain sudah habis terpakai.

12. Phantom Power, ada beberapa jenis alat yang membutuhkan catu daya untuk bisa digunakan, seperti Condenser Microphone atau DI Box merk tertentu. Phantom Power untuk memberi catu daya melalui kabel audio yang digunakan ke Mic atau DI Box tanpa memerlukan kabel tambahan. Tegangan Phantom Power umumnya sekitar 22 hingga 48 Volt DC, tetapi yang paling banyak digunakan adalah 48 Volt DC. Hati2 saat akan mengkatipkan Phantom Power fader pada kanal yg bersangkutan harus dalam keadaan tertutup, termasuk saluran2 output lainnya seperti AUX, Eff dan Group. Karena saat phantom diaktipkan akan menimbulkan suara ledakan yang kuat diloudspeaker bila semua output tadi disebutkan  tidak ditutup.


ą
MX200.jpg
(141k)
tommykwitang,
26 Jul 2010 11.23
ą
tommykwitang,
26 Jul 2010 13.38
ċ
StellaMaries.mp3
(8727k)
tommykwitang,
26 Jul 2010 11.09
ċ
StellaShort.mp3
(2205k)
tommykwitang,
26 Jul 2010 11.09
ċ
Video3.flv
(18750k)
tommykwitang,
26 Jul 2010 11.09
Comments