My Articles


Perkenalan

diposkan pada tanggal 31 Jul 2010 22.39 oleh tommykwitang   [ diperbarui2 Apr 2011 09.40 ]


 

Sekedar mejeng selesai mengoperasikan sound system disuatu tempat di Jakarta. Kebetulan yg menghibur saat itu Daniel Sahuleka yg pernah melejit lagunya berjudul "Don't Sleep Away The Night".








Ini hanyalah sebuah contoh kelengkapan sound system untuk LIVE MUSIC sound system tanpa wiring diagram. Disana ada speaker floor monitor, side fill monitor, Front of House speaker, Main mixer, Monitor Mixer, dll.



 Saya bukanlah siapa-siapa, tetapi hanya ingin berbagi pengalaman apa yg pernah saya pelajari dan lakukan dalam dunia elektronik dan sound system.

Saya mulai mempelajari elektronik thn 1970, saat mulai masuk SMP. Dulu transistor masih merupakan barang langka. Jadi kebanyakan rangkaian elektronik dibuat dari tabung elektron sebagai komponen aktifnya. Sangat mengandung resiko bermain dgn tegangan tinggi diatas 250VDC.

Tahun 1971 transistor RF yg ada dipasaran masih terbatas, 2SA70 dan 2SA103 merupakan favorit saya untuk membuat pemancar mini digelombang pendek pada SW1~SW3  antara frekuensi 2MHz~22MHz. Dengan 1 buah transistor 2SA103 pemancar AM yg saya buat hanya bisa mencapai sekitar 200 meter saja. Untuk membuat pemancar transistor 1 Watt pada frekuensi 3 MHz merupakan hal yang sulit, karena transistor yang mampu bekerja pada frekuensi setinggi itu sangat langka dan mahal harganya. Sekarang untuk membuat pemancar frekuensi hingga 15 MHz bisa kita gunakan transistor power audio hingga daya output ratusan Watt.

Setelah membuat pemancar mini dengan transistor, kemudian saya membuat pemancar dengan tabung 6BA6 sebagai oscilator dan 6L6 sebagai penguat akhir. Daya outputnya berapa watt saya tak tahu, karena tak punya alat ukur. Tetapi dgn antene sekedarnya dari kawat tembaga berdiameter 1mm sepanjang kira2 20 mtr bisa mencapai jarak sekitar 60km. Ini cuma sekedar kebetulan, mengingat tehnologi pemancar masih sangat dirahasiakan saat itu.

Tetapi ditahun 1978 buku2 tehnik pemancar dan antene mulai banyak dipasaran, maka pesawat CB dengan daya output 4 watt di Jakarta bisa mencapai Manado dengan menggunakan antene semi vertikal 2 X 0,25 Lambda open dipole yg salah satu ujungnya disangkutkan keujung tiang bendera tentunya dipisah dgn isolator. Ini sebuah pengalaman tak terlupakan, ternyata dgn bekal pengetahuan tehnik yg baik, banyak hal bisa dicapai dgn mudah dan biaya yg murah.



Tehnik Miking

diposkan pada tanggal 28 Jul 2010 00.04 oleh tommykwitang   [ diperbarui20 Mei 2011 21.40 ]

Tehnik Miking

Miking adalah tehnik penggunaan mikrofon yang baik berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan oleh berbagai pabrik mikrofon . Miking yang benar sangat dibutuhkan untuk didalam studio rekaman atau dalam pertunjukan musik hidup, agar suara musik yang dihasilkan benar2 berkwalitas. Cara penggunaan mic yang kurang tepat akan menghasilkan suara yang kurang sempurna.

 Kesempurnaan suara yang dimaksud disini adalah hasil suara yang mendekati keaslian sesuai sumber suara yang akan diambil. Sedapat mungkin suara terbebas dari suara2 lain selain sumber suara yang diinginkan, atau bebas dari kebisingan lingkungan, tetapi warna suara harus tetap terdengar alami.

 Disini akan saya prioritaskan tehnik miking vocal, dikarenakan bagian ini merupakan hal terpenting dalam pertunjukan musik hidup. Kejanggalan suara alat musik kadang diartikan oleh penonton sebagai improvisasi musisi, tetapi kejanggalan suara penyanyi atau orator atau MC akan langsung mengundang penilaian bahwa sound systemnya buruk. Itulah sebabnya mengapa saya menganggap miking vocal merupakan bagian yang sangat penting.

 Suara manusia yang kita dengar bukan hanya suara yang keluar dari rongga mulut, tetapi juga yang keluar dari rongga hidung. Suara yang keluar dari rongga hidung adalah suara yang sudah memperoleh penguatan pasif akibat efek gema pada ruang sinus. Bila kita hanya mengambil suara yang keluar dari mulut, suara akan terdengar tipis dan agak garing, berbeda bila kita mengambil suara dari mulut dan dari hidung secara bersamaan, hasilnya akan didapat suara yang alami dan terasa utuh.

Dibawah ini saya lampirkan gambar miking vocal yang benar dan yang salah:

 

Cara miking vocal yang benar, suara dari mulut dan dari hidung dapat ditangkap oleh mikrofon.

 

Cara miking vocal yang salah karena mikrofon hanya menangkap suara yang keluar dari mulut.

Dengan melihat gambar diatas, maka agar selalu diingat, usahakan mikrofon selalu menghadap kearah antara hidung dan mulut, agar suara yang tertangkap mikrofon merupakan paduan suara mulut dan hidung.

Kemudian untuk menjaga level suara agar baik dan konstan levelnya usahakan untuk mendekatkan mic kedekat mulut dan hidung ketika level suara kita rendah, jauhkan mic ketika level kita kuat misalnya saat teriak. Seberapa dekat dan seberapa jauh jarak mic kemulut kita harus dicoba dan dilatih, agar saat tampil dipanggung gerak pengaturan jarak mic kemulut terjadi secara otomatis karena kebiasaan yang benar. Kadang bila mic terlalu dekat suara hembusan angin yang keluar dari mulut bisa menjadi gangguan, untuk mengatasi gangguan hembusan angin tsb sebaiknya mic dipasangkan wind screen (penapis angin) yang terbuat dari bahan karet sponse. Untuk mic shure sm58 wind screen sudah terpasang didalamnya, sehingga jarang dibutuhkan wind screen tambahan.


Proximity Effect:

Dalam tehnik microphone kita sering menemukan istilah Proximity Effect, dimana semakin dekat mic kesumber suara semakin kuat suara nada rendah yang ditangkap oleh mic. Bila mic terlalu dekat kemulut suara letupan pada nada rendah bisa muncul akibat hembusan napas. Untuk mencegah suara letupan pada nada rendah kita bisa mengaktifkan HPF (High Pass Filter) yg bekerja antara 80-Hz ~ 125Hz tergantung audio mixer yg digunakan dan juga penambahan wind screen (penapis angin) yg terbuat dari sponse pada mic. Pada mic jenis gooseneck atau headset kadang penambahan windscreen saja tidak cukup untuk menghilangkan suara letupan, cobalah gunakan kertas tissue beberapa lapis didalam windscreen secukupnya.

Semakin jauh mic dari sumber suara maka nada rendah semakin tipis, dalam pengambilan suara pada paduan suara yg biasanya mic cukup jauh dari sumber suara, kita harus menambahkan penguatan nada rendah (bass) pada tone control di audio mixer dan mengurangi penguatan pada nada tinggi (treble) untuk mengurangi noise dari angin disekitar mic. Sehingga suara yg dihasilkan akan terdengar lembut, tidak cempreng. Untuk bagian paduan suara ini saya sarankan anda menggunakan mic jenis condenser yg sangat sensitip agar penggunaan mic tidak terlalu banyak, tetapi hasil suara akan terdengar lebih alami.


Membandingkan microphone yang sesuai dengan anda?

http://www.shure.com/asia/buyers-guide/mic-listening-lab


Tehnik Sound System

diposkan pada tanggal 9 Jun 2010 22.59 oleh tommykwitang   [ diperbarui31 Jul 2010 22.18 ]

Tentang Microphone

Kata Pengantar.

Selama puluhan tahun saya menjadi tehnisi elektronik. Sejak saya lulus Sekolah Dasar saya mulai menemukan hobby baru dibidang elektronik tepatnya diawal tahun 1970. Mulai dengan merakit rangkaian yang paling sederhana, membuat DC adaptor 9V/500ma, belajar menggulung trafo sendiri dengan mengikuti petunjuk buku yang saya baca, hingga membuat pemancar tabung dengan tabung 6BA6 dan 6L6 ditahun 1971.

Memiliki pemancar sendiri untuk berkomunikasi dengan sesama teman yang memiliki hobby elektronik sungguh sangat menyenangkan. Kita bisa mengembangkan pengetahuan tehnik kita, bertukar informasi dengan teman. Karenanya setelah saya lulus Sekolah Menegah Kejuruan Tehnik Listrik, saya selalu berusaha untuk mendapatkan pekerjaan sebagai tehnisi Radio Komunikasi.

Hingga suatu saat ketika saya membuka bengkel elektronik sendiri, ada teman yang mengajak saya untuk membantu mengoperasikan peralatan sound system profesional yang digunakan oleh Group Musik Dang-Dutnya. Dengan pengalaman yang masih seadanya saya mulai mencoba menjadi operator sound system disebuah Group Dang-Dut. Ternyata saya merasa mendapat kesenangan baru dibidang ini, karena saya suka peralatan elektronik, suka musik, pothography dan berenang. Tetapi saya merasa paling senang saat mendukung sebuah Group Musik untuk tampil didepan publik. Dengan segala kemampuan yang saya miliki berusaha agar group musik yang saya dukung bisa memberikan pertunjukan yang sempurna kwalitas suaranya.

Ternyata peran Soundman cukup vital dalam pertunjukan musik, ketika saya bekerja disebuah Hotel berbintang 4 di Jakarta. Kehadiran saya telah mendongkrak income disetiap acara Live Music antara 3x hingga 5x lipat dari pendapatan sebelumnya ketika masih dipegang oleh Soundman lain. Sebagai penghargaan saya diberi honor jauh diatas batas maksimal yang ditentukan oleh pihak pengelola, ditambah dengan perlakuan istimewa lainnya. Sungguh menyenangkan.

Setelah saya terjun kedunia Profesional Sound System terasa hidup saya menjadi lebih indah, saya bisa mengunjungi beberapa negara lain atas biaya perusahaan saat saya bekerja disebuah perusahaan Distributor Profesional Sound System. Bagi Soundman sebuah Group Musik kelas atas perjalanan keluar negeri sangatlah mungkin mereka alami. Bila anda memang berbakat ada baiknya anda coba profesi ini.

Dari pengalaman selama kira2 18 tahun saya merasakan bahwa operator sound system menempati posisi yang strategis terhadap keberhasilan sebuah Group Musik dihadapan Publik. Seorang Soundman tidak cukup hanya memahami tehnik sound system saja, mereka juga harus memiliki jiwa seperti seorang musisi. Mampu merasakan keindahan musik yang ditampilkan, Sound Man harus mampu memahami apa yang diinginkan oleh musisi. Musisi memiliki karakter yang unik yang tidak bisa dipahami oleh setiap orang, tetapi seorang yang memiliki bakat musik akan lebih mudah memahami keinginan musisi yang didukungnya. Bila anda orang yang memiliki kepekaan terhadap musik, maka akan lebih mudah bagi anda untuk menjadi Soundman yang profesional.

Karena kebanyakan orang yang memiliki jiwa musik jarang sekali yang mau memilih sekolah tehnik maka sulit sekali mencari Soundman yang handal dinegara kita. Kebanyakan Soundman berpegang pada prinsip jika suara sound system terdengar jernih dan kuat itu berarti cukup, apakah pendapat musisi juga demikian. Ternyata tidak. Musisi memiliki karakter yang unik, suara bersih saja tidak cukup. Suara guitar yang mulus malah tidak disukai oleh gitaris beraliran musik Rock. Efek Distortion digunakan untuk mendapatkan suara gitar yang cacat (distrorsi), tetapi setelah suara gitar dibuat cacat masih belum cukup. Suara gitar yang dibuat cacat tidak boleh menyakiti telinga penonton, jadi suara gitar harus cacat tetapi masih memiliki kelembutan ditelinga penonton, untuk itu diperlukan sebuah Tube Pre Amplifier. Karena sifat tabung elektron (tube) yang memiliki kecepatan lantingan yang tinggi tetapi memiliki kelemahan akan mengakibatkan sinyal berbentuk pulsa menjadi tumpul dititik puncaknya. Kelemahan itu justru memberi keuntungan, suara yang cacat ( terdistorsi ) menjadi lebih lembut terasa ditelinga. Itu baru salah satu dari contoh keunikan seorang musisi, suara mulus dibikin rusak, tetapi rusaknya harus enak, aneh kan?!. Masih banyak lagi keunikan-keunikan karakter yang dimiliki oleh para musisi.

Karenanya Soundman yang baik harus mampu memenuhi keinginan Musisi yang didukungnya, suara di loudspeaker FOH ( Front of House ) maupun suara di loudspeaker Monitor dan Side Fill harus sesuai dengan keinginan para Musisi, sesuai dengan karakter musik yang mereka inginkan. Ketidak selarasan sedikit saja pada pengaturan suara diloudspeaker akan merusak kenyamanan Musisi dalam bermain, yang akan mengakibatkan pertunjukan menjadi tidak maksimal hasilnya. Karena karakter musik mereka tidak tampil sempurna. Padahal yang membedakan suatu group musik dengan group musik lainnya adalah pada karakternya yang unik.

Mereka yang memiliki jiwa musisi dipastikan akan lebih mampu menangani sound system untuk sebuah pertunjukan musik, karena seorang yang memiliki jiwa musisi memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap musik dari pada seorang tehnisi biasa. Terutama untuk pekerjaan balancing di Audio Mixer. Sedangkan tugas tehnisi lebih menjurus kepada pekerjaan instalasi sound system dan tehnik penempatan loudspeaker. Seorang Soundman adalah merupakan bagian yang menyatu dengan pemain musik, fungsinya setara dengan musisi, sepantasnya honornya juga setara dengan pemain musik. Untuk saat ini tampaknya masih ada ketidak selarasan masalah honor untuk Soundman. Karena Soundman merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan musisi maka sebaiknya orangnya harus tetap seperti musisi yang harus selalu dijaga keutuhan teamnya.

Cobalah kenali diri anda sendiri, posisi mana yang paling sesuai untuk anda. Sebagai Tehnisi (Installer) ataukah Soundman? Tetapi Tehnisi maupun Soundman pasti akan membutuhkan pengetahuan tehnik sound system yang akan saya bahas didalam tulisan ini. Terimakasih.

1.Microphone.

Microphone adalah sebuah alat untuk pengambilan suara, bekerja dengan cara mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik. Sinyal listrik yang dihasilkan kemudian dihubungkan melalui kabel audio ke penguat depan (pre amplifier) yang terdapat di Audio Mixer untuk diperkuat sebelum diolah lebih lanjut di Audio Mixer

Ada juga microphone tanpa kabel atau Wireless Microphone (secara teory, karena pada kenyataan untuk menghubungkan penerima ke audio mixer tetap harus pakai kabel). Untuk masalah Wireless Microphone ini akan dibahas setelah kita tuntas membahas Microphone dengan kabel.


A. Berdasarkan tehnik pembuatannya microphone terbagi atas:

1. Dynamic Microphone, terbuat dari bahan magnet dengan lilitan kawat yang terhubung dengan membran (selaput tipis sejenis plastik), lihat gambar 1. Dynamic Microphone tidak membutuhkan catu daya untuk pengoperasiannya. Getaran yang diterima akan menggerakkan lilitan kawat mundur maju yang akan menghasilkan sinyal listrik sebagai akibat perubahan tingkat kekuatan medan magnet terhadap gerakan lilitan. Dynamic Microphone tidak membutuhkan catu daya untuk pengoperasiannya. Kebanyakan Dynamic Microphone mudah rusak bila terguncang kuat karena jatuh atau terbanting, kerusakan bersifat permanent, tetapi ada juga pabrik mic tertentu yang menyediakan part untuk mengganti cartridge yang rusak. Tetapi ada juga merk2 tertentu yang tahan banting. Bila kita mampu merawat dengan baik jenis Dynamic Microphone bisa sangat panjang usia pakainya ( lebih dari 30 tahun bahkan ada yang tahan lebih dari 100_tahun).

2. Electret Condenser Microphone (ECM), terbuat dari sebuah bidang logam sangat tipis yang berhadapan dengan logam yang cukup tebal membentuk sebuah kondensator yang dihubungkan kesebuah transistor FET (lihat gambar 2). Perubahan nilai kapasitas pada membran akan mempengaruhi laju arus pada transistor FET yang mengikuti getaran pada membran. Perubahan laju arus pada FET itulah yang merupakan sinyal listrik keluaran dari Mic. Karena ECM menggunakan komponen aktif transistor FET, maka untuk pengoperasiannya membutuhkan catu daya yang biasa disebut dengan Phantom Power. Jenis ECM memiliki kepekaan lebih tinggi dari pada Dynamic Microphone, lebih tahan banting, tetapi usia pakainya akan dibatasi oleh usia komponen electronicnya dan diapragmanya tidak boleh kena udara lembab atau air. Bila persediaan spare part masih tersedia kerusakan pada microphone jenis ini bias diperbaiki.

http://www.shure.com/asia/how-to/index.htm?PageNumber=1&FileType=&ProductType=&SortBy=dInDate%20asc&SortByName=shOldest


3. Carbon Microphone, karena suaranya yang tidak sempurna, sudah langka dan sangat jarang digunakan kecuali pada pesawat telepon kuno maka rasanya tidak perlu kita bahas.


B. Berdasarkan arah tangkapan suara microphone terbagi atas:

1. Omnidirectional Microphone, menangkap suara dari semua arah (depan, belakang, samping, atas dan bawah, lihat gambar 3). Microphone jenis ini sangat tidak baik bila digunakan diluar studio seperti dalam pertunjukan musik hidup. (kecuali memang sengaja untuk merekam suara alam), dan sangat besar kemungkinan mengalami gaung (feedback) bila digunakan bersama peralatan pengeras suara ditempat yang sama. Lebih banyak digunakan untuk wawancara diruangan tertutup yang kedap tanpa kehadiran loudspeaker monitor diruanganTetapi bila digunakan untuk miking dengan jarak yang sangat dekat dengan sumber suara sangat baik karena tidak memiliki PROXIMITY  EFFECT seperti jenis Cardioid yang akan dijelaskan berikut dibawah ini. Mic jenis ini sangat baik untuk digunakan didalam studio rekaman. Adapun yang dimaksud dengan proximity effect adalah perubahan pada suara yang dihasilkan, semakin dekat jarak sumber suara ke microphone semakin kuat nada bassnya. Bila nada bass ini terlalu kuat pada saat ada ucapan yang mengandung huruf B,P,D akan menimbulkan suara letupan pada loudspeaker.

http://www.shure.com/asia/how-to/index.htm?PageNumber=1&FileType=&ProductType=&SortBy=dInDate%20asc&SortByName=shOldest

2. Cardioid (Unidirectional) Microphone, menangkap suara hanya dari satu    arah saja biasanya dari depan dengan sudut cakupan sekitar 130 derajat. 

 Lihat gambar 4.

http://www.shure.com/asia/how-to/index.htm?PageNumber=1&FileType=&ProductType=&SortBy=dInDate%20asc&SortByName=shOldest


3. Supercardioid, sudut tangkapan dari arah depan sekitar 115 derajat, tetapi jenis ini memiliki kepekaan terhadap suara yang datang dari arah belakang dengan sudut tangkapan sekitar 125 derajat. Perlu hati2 menggunakan Mic jenis ini bila kita menggunakan Loudspeaker Floor Monitor, karena bisa mengakibatkan gaung (feedback). 

Lihat gambar 5. 

Sumber: http://www.shure.com/asia/how-to/index.htm?PageNumber=1&FileType=&ProductType=&SortBy=dInDate%20asc&SortByName=shOldest


4.  Hypercardioid, sudut tangkapan dari arah depan sekitar 105 derajat, tetapi jenis ini memiliki kepekaan terhadap suara yang datang dari arah belakang dengan sudut tangkapan sekitar 110 derajat. Juga perlu hati2 seperti dijelaskan dalam Supercardioid. Tetapi untuk reporter yang mewawancara seseorang diluar studio, kedua jenis mic Super dan Hypercardioid sangat membantu. Sudut yang sempit dan kepekaan dari arah belakang akan mencegah kebisingan disekitar ikut masuk tertangkap, suara reporter dan orang yang diwawancara bisa di tangkap hampir sama baiknya.

Lihat gambar 6.

Sumber: http://www.shure.com/asia/how-to/index.htm?PageNumber=1&FileType=&ProductType=&SortBy=dInDate%20asc&SortByName=shOldes


 5. Bidirectional Microphone, dengan sudut tangkapan 90 derajat dari arah depan dan 90 derajat dari arah belakang. Jenis Mic ini paling baik untuk reporter yang mewawancara seseorang diluar studio. 

Lihat gambar 7.




Pemilihan Type Microphone

Setelah kita mengenal beberapa jenis microphone dengan karakternya, kini kita berlanjut kepada pemilihan type microphone sesuai kebutuhan kita. Selain microphone memiliki arah sudut tangkapan yang berbeda, juga memiliki tanggapan frekuensi yang berbeda-beda, serta tingkat kedataran yang berbeda dalam tanggapan frekuensinya. Perbedaan karakter yang terakhir ini sangat berhubungan dengan harga. Semakin sempurna kedataran dan keluasan tanggapan frekuensi semakin mahal harganya.

Untuk memilih type microphone harus kita tentukan dulu untuk apa microphone itu kita gunakan. Mic untuk vocal berbeda dengan mic untuk perkakas musik (music instrument). Antara perkakas yang satu dan yang lain memiliki karakter dan batas frekuensi yang berbeda pula. Begitu pula untuk vocal, vocalist wanita dan pria karakternya berbeda, bahkan sama2 wanitapun bisa berbeda karakter suaranya, sehingga pilihan micnya pun bisa berbeda.

Untuk menentukan type mic yang sesuai penggunaannya pertama kita harus mengetahui batas frekuensi suara alat yang akan kita gunakan, dibawah ini saya lampirkan gambar batas frekuensi suara dari jenis alat atau vocal yang umum dan sudah dikenal manusia.

Klik gambar untuk memperbesar

Klik gambar untuk memperbesar


Dengan referensi gambar diatas kita akan bisa menentukan type microphone yang harus kita gunakan. Memang agak sulit juga bila harus menentukan pilihan dengan cara ini, tetapi cara inilah yang paling terjamin untuk tidak salah dalam memilih.

Tetapi ada juga cara lain untuk memilih yang lebih mudah, kita percaya saja kepada petunjuk pabrik. Biasanya pabrik2 microphone terkenal sudah menyiapkan tabel microphone yang diproduksinya dengan petunjuk peruntukannya, peralatan apa yang bisa ditangani oleh type2 mic yang diproduksinya.

Dibawah ini saya berikan contoh table peruntukan microphone produk Shure, karena hanya ini data yang saya miliki dan sudah saya kenal karakternya.

Klik gambar untuk memperbesar

Dengan referensi tabel diatas, akan memudahkan kita didalam menentukan pilihan microphone yang akan kita gunakan. Untuk satu jenis alat musik terdapat banyak sekali pilihan, selama anda memilih type2 yang sesuai dengan peruntukannya, dipastikan hasilnya baik. Namun sebaik apa hasil yang didapat tergantung seberapa tebal kantong anda. Pilihlah microphone yang sesuai dengan peruntukannya yang sesuai pula dengan kemampuan kantong kita. Lebih baik kita mulai dari sekarang dengan sebatas kemampuan yang ada, daripada menunggu sampai terbeli type yang terbaik tetapi belum pasti akan terbeli. Dengan memulai selaras kemampuan, kita bisa kembangkan kelompok musik kita sehingga akhirnya mampu membeli yang terbaik.



Bersambung ke.................. http://tommykwitang.blogspot.com/


Audio Mixer

diposkan pada tanggal 27 Mei 2010 13.36 oleh tommykwitang   [ diperbarui10 Sep 2010 08.53 ]

 

Setelah kita membahas tentang microphone dengan berbagai tehnik dalam penggunaan-nya, maka selanjutnya kita juga perlu mengetahui tentang AUDIO MIXER YANG yang berguna untuk mengolah dan mencampur suara2 dari microphone dan instrumen musik electronic lainnya untuk menghasilkan sebuah konser atau band.

Audio mixer biasanya terdiri dari beberapa blok antara lain:

1. KANAL INPUT MONO ( MONO CHANNEL INPUT ) merupakan bagian penguat sinyal audio yang levelnya sangat rendah seperti microphone atau instrumen musik elekronik yang levelnya antara sekitar -60 to -20dBu ke level sekitar 0,775V (0 dBu) atau 1,585V rms (+4 dBV). Tidak hanya itu pada blok ini biasanya dilengkapi dengan perangkat tambahan yang nanti akan kita bahas lebih mendetail. 

0 dBu = 0.775 Volts rms                                                                                                                     0 dBV = 1 Volt rms

Klik gambar untuk memperbesar

2. KANAL INPUT STEREO ( STEREO CHANNEL INPUT ) fungsinya sama seperti KANAL INPUT mono, bedanya pada KANAL INPUT stereo terdapat 2 rangkaian yang identik sama dengan tombol-tombol pengatur yang digabungkan dalam 1 knob untuk kegunaan yang sama. Merupakan penguat 2 kanal seperti stereo HI-Fi yang biasa dipakai dirumah-rumah denga kepekaan input sekitar -30 to +10dBu

3. Keluaran Utama ( Master Output ) bagian keluaran utama (master) dengan 2 kanal output Kiri/Left dan Kanan/Right merupakan hasil pencampuran seluruh kanal input yang aktip, biasanya untuk dihubungkan ke bagian penguat Loudspeaker FOH (Front of House) yang diperuntukkan ke penonton ( audience ). 

Klik gambar untuk memperbesar


4. Mono Summary Output merupakan penggabungan dari Main Output Left & Right menjadi 1 kanal output mono. Biasanya Mono Summary Output untuk dihubungkan ke penguat Loudspeaker Sub Woofer FOH atau penguat Fill Side Monitor yang dipasang disisi kanan dan kiri panggung untuk monitor keseluruhan musisi dipanggung. Sehingga musisi bisa merasakan seperti apa suara yang didengar penonton dan dapat lebih menikmati permainan musik mereka secara utuh. 

5. Master Aux Output merupakan pengatur level utama hasil pencampuran Auxiliary output yang datang dari seluruh KANAL INPUT, outputnya untuk dihubungkan ke amplifier loudspeaker monitor untuk pemain musik dan penyanyi. Umumnya ada lebih dari 4 kanal master output auxiliary yang dibuat secara terpisah, sehingga penyanyi maupun musisi dapat memonitor suara sesuai kebutuhan masing2. Karena masing2 personil memiliki kebutuhan monitor suara yang berbeda-beda.

6. Group Output nyaris sama fungsinya dengan keluaran utama (master output), dengan total output minimal 4 kanal yang terbagi menjadi 2 kelompok. Group1 dengan 2 kanal output Left & Right, Group2 dengan 2 kanal output Left & Right. Untuk audio mixer yang memiliki Group Output, dalam aliran suara terpasang antara KANAL INPUT dengan Master Output, hasil campuran sinyal suara dari Group Output terhubung ke input Master Output. Penggunaan Group ini biasanya untuk membagi seluruh sinyal suara yang masuk menjadi beberapa group yang terpisah, misalnya Group1 untuk sinyal suara musik saja dan Group2 untuk Vocal penyanyi utama dan penyanyi suara latar. Bila penyanyi yang tampil memiliki power vocal yang lemah, sedangkan untuk menaikkan level suara penyanyi di audio mixer sudah tidak mungkin lagi, maka cara aman untuk menyeimbangkan keharmonisan level suara musik dengan level vocal adalah menurunkan level musik dari pengatur Group yang digunakan untuk musik. Cukup menurunkan 2 tombol Group saja.

7. PFL (Pre Fade Listen) untuk memonitor semua kanal secara sendiri-sendiri atau beberapa kanal sekaligus sesuai kebutuhan, dilengkapi dengan penguat suara untuk headphone atau untuk ke amplifier speaker monitor operator. Dengan menekan tombol PFL dikanal 1 saja, kita hanya akan memonitor suara yang datang dari kanal1. Sesuai namanya sinyal PFL diambil sebelum fader di masing2 kanal, dengan demikian naik turunnya fader dikanal yg bersangkutan tidak mempengaruhi level pada PFL. Dengan kondisi ini memungkinkan kita melakukan penyesuaian alat yang akan dihidupkan sementara acara tetap berjalan tanpa didengar penonton dengan cara menutup fader pada kanal yg bersangkutan saat melakukan setting, sehingga ketika saatnya alat dioperasikan sudah dalam setting yang baik. 

Selain PFL ada juga AFL (After Fade Listen) kegunaannya hampir sama seperti PFL tetapi koneksi diambil setelah Fader kanal atau pengatur level bagian yang akan dimonitor (AUX/Group/Master).



8. Effect Output fungsinya sama dengan Auxiliary Output, tetapi warna tombolnya dibedakan dengan Aux Output. Outputnya untuk dihubungkan kealat efek suara (Sound Effect) untuk menambahkan efek suara dari kanal2 yang diinginkan saja. Misalnya kanal yang digunakan untuk vocal para penyanyi ingin kita tambahkan dengan gema/reverb, delay, atau chorus.

9. Effect Return, keluaran suara dari alat efek suara dihubungkan kebagian ini dan akan terhubung ke input Group atau Main bercampur dengan seluruh suara yang masuk ke Group atau Main. Tetapi banyak sekali yang enggan mengunakan effect return, mereka lebih suka suara yang keluar dari efek suara dihubungkan ke salah satu KANAL INPUT yang belum digunakan. Tujuannya agar suara efek bisa diatur nadanya (tone) melalui tone control dibagian KANAL INPUT, sehingga terdengar lebih enak.

10. Record Output digunakan untuk merekam suara dari Main Output, dibagian ini biasanya dilengkapi pengatur level suara untuk penyesuaian terhadap alat perekam yang digunakan, sehingga diperoleh hasil rekaman yang optimal. Tetapi kadang merekam dari Rec Out kurang baik hasilnya, dikarenakan operator kadang harus mengubah Master output yang berpengaruh langsung terhadap output di Rec Out, bila Master Output dinaikkan kemungkinan hasil rekaman menjadi cacat karena overload. Suara cacat dalam rekaman tidak dapat diperbaiki, sedangkan level suara kurang tinggi bisa diedit untuk menaikannya.

11. Tape Input untuk mendengarkan hasil rekaman suara, output alat perekam dihubungkan kebagian ini. Disediakan bila input yang lain sudah habis terpakai.

12. Phantom Power, ada beberapa jenis alat yang membutuhkan catu daya untuk bisa digunakan, seperti Condenser Microphone atau DI Box merk tertentu. Phantom Power untuk memberi catu daya melalui kabel audio yang digunakan ke Mic atau DI Box tanpa memerlukan kabel tambahan. Tegangan Phantom Power umumnya sekitar 22 hingga 48 Volt DC, tetapi yang paling banyak digunakan adalah 48 Volt DC. Hati2 saat akan mengkatipkan Phantom Power fader pada kanal yg bersangkutan harus dalam keadaan tertutup, termasuk saluran2 output lainnya seperti AUX, Eff dan Group. Karena saat phantom diaktipkan akan menimbulkan suara ledakan yang kuat diloudspeaker bila semua output tadi disebutkan  tidak ditutup.


1-4 of 4